Selasa, 03 Juni 2014

Aku , ibu dan pesan singkatnya


Gubraaak ..pyaaa..aar !!! “siapa kau ? kau sama sekali tidak berhak mengaturku ! hanya aku yang berhak mengatur  kau , kalian semua .. !!” tuturnya dengan kencang. “breeeeeeeem ,, breeeem ..” bunyi mesin motor yang bersiap untuk landas. Berbeda dengan sebelah ruang dekat pintu itu, sunyi dan hening.
 Sentak  seketika aku menoleh untuk melihat darimana asal bunyi mencengangkan itu. Tidak ,,! Tidaaak !! untuk apa ? untuk apa aku menoleh sementara tolehanku itu hanya menjadi hembusan angin lalu biasa? Untuk apa aku menoleh lantas tolehanku itu hanya membuat hatiku meronta ? meronta melihat apa yang terjadi .. meronta melihat genangan air mata menutupi wajah lembutnya. “ooh.. tidak tuhan, sunggguh tak kuasa. Hatiku amat tersayat”. Jikalau  aku saja merasa begitu sakit ketika hanya melihat dan mendengarnya, lantas bagaimana dengan beliau ? bagaimana dengan wajah lembutnya ? bagaimana dengan beliau yang menjadi tokoh utama atas perasaannya yang telah terdzhalimi Rabb ?
aku bahkan merasa tidak ada seorangpun yang mampu menjawab semua  pertanyaanku , mampu menjawab keluhku , selain kau ya Rabbi ..
                “teh ,, kamu mau ibu memasak apa untuk buka puasa hari ini ?” tuturnya lembut dengan muka sembabnya yang hampir tak terlihat lagi. “terserah ibu , aku mau apa saja yang ibu buat..”. ibu langsung bergegas untuk pergi ke dapur menyiapkan menu buka puasa hari ini. Dan aku kembali dengan mesin tik tuaku , kembali menulis risalahku ..
                Dear diary ..
Ramadhan , ya ini hari ramadhan yang ke 27 aku dan ibu jalani , dengan  11 kali teriakan hebat yang terdengar , dengan 7 kali gebrakan pintu yang mencengangkan dan entah berapa kali pula terdengar pecahan kaca-kaca memenuhi lantai kamarnya. Tapi apa yang wajah lembutnya lakukan saat itu ? menutup kembali gebrakan pintu dengan perlahan , mengambil satu-persatu percikan kaca dengan tetesan air yang  menetes diantara percikan itu. Tapi apa yang beliau tunjukan untukku ? senyum , hanya senyuman lembutnya yang bisa menutupi semua yang terjadi .
                Ramadhan , bukankah semua orang lantas menyebut bulan ramadhan itu bulan penuh dengan keberkahan , keindahan dan ketentraman. 17 tahun yang lalu aku memang merasakannya, merasakan semua itu. Tapi tidak di usiaku yang hampir menginjak 18 tahun ini rabb. Aku bahkan merasakan bahwa ini ramadhan tersengit yang pernah aku rasakan.
Lantas bagaimana dengan DIA yang diluar sana ?  pedulikah dia dengan keadaannya ? keadaanku ? tidak ..! Kau tau aku begitu menyayangimu , teramat mengagumimu segabai sosok yang selalu aku jadikan panutan. Kau yang selalu menjadi obat lukaku , kau yang mengenalkanku bagaimana cara mengayuh agar dapat berjalan. Kau dan wajah lembutnya, menjadikan aku sosok yang selalu dekat akan sebuah keharmonisan, selalu dekat dengan sebuah ketentraman. Sayang, tapi itu dulu bukan untuk sekarang!
“teh, sudah sore mandi dulu jangan lupa sholat asharnya !” suara lembutnya dari kejauhan. “iya bu..” jawabku singkat .
                “cukup bu , nasinya jangan terlalu banyak  nanti teteh kekenyangan “, “iya nak..”jawab ibu.
Aku dan ibu menikmati makan buka puasa tidak seperti biasanya , kali ini terasa sepi. Ibu tak sepertinya , kali ini ibu tak banyak bicara. Tak banyak menanyaku tentang kegiatan disekolah dan apapun itu. Tak seperti biasanya. “bu ,,” aku memanggil, “iya teh, kenapa ? masakannya tidak enak ? terasa hambar ya ?” ibu dengan cepat menjawab. “engga bu , masakan ibu enak , seperti  biasanya enak sekali .. boleh teteh bertanya bu ?” jawabku . “iya teh , teteh mau tanyain apa ?”tuturnya. “bu , apa ibu dan ayah baik-baik saja ?” tanyaku. “eh hmm , ibu baik nak” jawabnya lemah .”tapi kenapa begitu sering ayah membentak ibu ? kenapa begitu sering ayah melontarkan kata-kata kasar bu ? kenapa begitu sering ayah melemparkan pintu sampai begitu kerasnya bu ? ada apa dengan ibu dan ayah ? tanyaku dengan sedikit rasa kesal. “ibu dan ayah baik nak,  ayo lanjutkan makannya ! setelah itu kita bergegas pergi ke mushola untuk sholat teraweh” jawab ibu yang seketika tak mau membahas masalahnya.
Sepulang dari mushola,  tidak biasanya aku merasa kantuk yang berlebihan rasanya ingin segera merebahkan badan di ranjang. Dan rasanya untuk malam ini aku tidak ingin menyapa mesin tik tuaku .

               
 Dinda anakku ..
Kadang tiap masalah yang dihadapi tak harus dipaksakan dengan solusi manusiawi yang penuh keterbatasan, sebab yang dibutuhkan adalah kerendahan hati dalam ikhtiar langit di hening malam.
Kadang Allah mendidik dengan cara-cara yang unik yang sulit dijangkau akal dan pikiran, sebab yang dibutuhkan adalahhanya berbaik sangka pada-Nya dalam balutan ikhlas..
Ibu berdoa ,semoga keindahan tak perlu lagi dinamai dan semoga keharmonisan tak perlu lagi terbagi..

Pagi hari tiba , aku telat terbangun .. kusambut mesin tik tuaku pagi ini.
“ibuuuuu…”

2 komentar: