Gubraaak
..pyaaa..aar !!! “siapa kau ? kau sama sekali tidak berhak mengaturku ! hanya
aku yang berhak mengatur kau , kalian
semua .. !!” tuturnya dengan kencang. “breeeeeeeem ,, breeeem ..” bunyi mesin
motor yang bersiap untuk landas. Berbeda dengan sebelah ruang dekat pintu itu,
sunyi dan hening.
Sentak seketika aku menoleh untuk melihat darimana
asal bunyi mencengangkan itu. Tidak ,,! Tidaaak !! untuk apa ? untuk apa aku
menoleh sementara tolehanku itu hanya menjadi hembusan angin lalu biasa? Untuk
apa aku menoleh lantas tolehanku itu hanya membuat hatiku meronta ? meronta
melihat apa yang terjadi .. meronta melihat genangan air mata menutupi wajah
lembutnya. “ooh.. tidak tuhan, sunggguh tak kuasa. Hatiku amat tersayat”.
Jikalau aku saja merasa begitu sakit
ketika hanya melihat dan mendengarnya, lantas bagaimana dengan beliau ?
bagaimana dengan wajah lembutnya ? bagaimana dengan beliau yang menjadi tokoh
utama atas perasaannya yang telah terdzhalimi Rabb ?
aku bahkan merasa tidak ada
seorangpun yang mampu menjawab semua pertanyaanku , mampu menjawab keluhku , selain
kau ya Rabbi ..
“teh
,, kamu mau ibu memasak apa untuk buka puasa hari ini ?” tuturnya lembut dengan
muka sembabnya yang hampir tak terlihat lagi. “terserah ibu , aku mau apa saja
yang ibu buat..”. ibu langsung bergegas untuk pergi ke dapur menyiapkan menu
buka puasa hari ini. Dan aku kembali dengan mesin tik tuaku , kembali menulis
risalahku ..
Dear diary ..
Ramadhan , ya ini hari ramadhan yang ke 27 aku dan ibu jalani , dengan 11 kali teriakan hebat yang terdengar , dengan
7 kali gebrakan pintu yang mencengangkan dan entah berapa kali pula terdengar
pecahan kaca-kaca memenuhi lantai kamarnya. Tapi apa yang wajah lembutnya
lakukan saat itu ? menutup kembali gebrakan pintu dengan perlahan , mengambil
satu-persatu percikan kaca dengan tetesan air yang menetes diantara percikan itu. Tapi apa yang
beliau tunjukan untukku ? senyum , hanya senyuman lembutnya yang bisa menutupi
semua yang terjadi .
Ramadhan ,
bukankah semua orang lantas menyebut bulan ramadhan itu bulan penuh dengan
keberkahan , keindahan dan ketentraman. 17 tahun yang lalu aku memang
merasakannya, merasakan semua itu. Tapi tidak di usiaku yang hampir menginjak
18 tahun ini rabb. Aku bahkan merasakan bahwa ini ramadhan tersengit yang
pernah aku rasakan.
Lantas bagaimana dengan DIA yang diluar sana ? pedulikah dia dengan keadaannya ? keadaanku ?
tidak ..! Kau tau aku begitu menyayangimu , teramat mengagumimu segabai sosok
yang selalu aku jadikan panutan. Kau yang selalu menjadi obat lukaku , kau yang
mengenalkanku bagaimana cara mengayuh agar dapat berjalan. Kau dan wajah
lembutnya, menjadikan aku sosok yang selalu dekat akan sebuah keharmonisan,
selalu dekat dengan sebuah ketentraman. Sayang, tapi itu dulu bukan untuk
sekarang!
“teh, sudah sore mandi dulu
jangan lupa sholat asharnya !” suara lembutnya dari kejauhan. “iya bu..”
jawabku singkat .
“cukup
bu , nasinya jangan terlalu banyak nanti
teteh kekenyangan “, “iya nak..”jawab ibu.
Aku dan ibu menikmati makan buka
puasa tidak seperti biasanya , kali ini terasa sepi. Ibu tak sepertinya , kali
ini ibu tak banyak bicara. Tak banyak menanyaku tentang kegiatan disekolah dan
apapun itu. Tak seperti biasanya. “bu ,,” aku memanggil, “iya teh, kenapa ?
masakannya tidak enak ? terasa hambar ya ?” ibu dengan cepat menjawab. “engga
bu , masakan ibu enak , seperti biasanya
enak sekali .. boleh teteh bertanya bu ?” jawabku . “iya teh , teteh mau
tanyain apa ?”tuturnya. “bu , apa ibu dan ayah baik-baik saja ?” tanyaku. “eh
hmm , ibu baik nak” jawabnya lemah .”tapi kenapa begitu sering ayah membentak
ibu ? kenapa begitu sering ayah melontarkan kata-kata kasar bu ? kenapa begitu
sering ayah melemparkan pintu sampai begitu kerasnya bu ? ada apa dengan ibu
dan ayah ? tanyaku dengan sedikit rasa kesal. “ibu dan ayah baik nak, ayo lanjutkan makannya ! setelah itu kita
bergegas pergi ke mushola untuk sholat teraweh” jawab ibu yang seketika tak mau
membahas masalahnya.
Sepulang dari mushola, tidak biasanya aku merasa kantuk yang
berlebihan rasanya ingin segera merebahkan badan di ranjang. Dan rasanya untuk
malam ini aku tidak ingin menyapa mesin tik tuaku .
Dinda
anakku ..
Kadang tiap masalah yang dihadapi tak harus dipaksakan dengan solusi
manusiawi yang penuh keterbatasan, sebab yang dibutuhkan adalah kerendahan hati
dalam ikhtiar langit di hening malam.
Kadang Allah mendidik dengan cara-cara yang unik yang sulit dijangkau
akal dan pikiran, sebab yang dibutuhkan adalahhanya berbaik sangka pada-Nya dalam
balutan ikhlas..
Ibu berdoa ,semoga keindahan tak perlu lagi dinamai dan semoga
keharmonisan tak perlu lagi terbagi..
Pagi hari tiba , aku telat
terbangun .. kusambut mesin tik tuaku pagi ini.
“ibuuuuu…”
.jpg)
Thank you...
BalasHapusyou're welcome Sir :D and what is your opinion about my short story Sir ? hihi
BalasHapus