Minggu, 29 Juni 2014

Me and Dad


The night was raining all. Like water poured from the sky. Lightning grabbed fought each other. Such as natural atmosphere was showing his anger, like watching the sky crying. which is clearly visible by a pair of clear eyes. She  could see a flash of light from above his bed grabbing each other, through the cracks in the walls or roof leaks.
"No .. please .. please don’t take my father.! Don’t take my father away.! please ..! "
"No ..!"
"Hey kid, wake up dear." He patted her shoulder. With a choked breath and sweat trickling down her forehead, and she was awakened by his  voice. "Son, you had a bad dream again? he said.
"Yes  dad.." replied the little girl.
"Okay, now you have to sleep again. Don't worry, it was just a dream. "He said, then pulled back the blanket to her.
She was seven years old. but it's been almost a month he lay ill. In a little shack she lived alone. Because when night, her father went to make a living.
"I have to go dear, and earn money to buy your medicine." His father said before leaving.
"But dad, I'm afraid to be alone." He complained.
"It's okay, nothing will be happen dear.." he replied
"if it rains, what about you?," he whined. "What if we are hit by flooding as two years ago?" She remembers when her house swept away.
Her father was stunned for a moment. Then, "do not think that is such a pity. I will not go long. Pray that I can get money tonight .. "
Finally, she could not prevent him. She  could only see his back that has been bent, to disappear behind the door. She could still hear the footsteps of his father who collided with a stick. until his voice disappeared. Then, she lived alone in a hut cold and damp.
To forget the pain, she tried to imagine the fun moments in life. when her mother was still alive. That's the best time in her life. "Why did God call my mom so quickly?" she said. She knew, since her mother died, her life changed so difficult. She lived with her father who is old as a masseuse around the village. He often felt hungry, because not all the people want to massage all the time. In fact, sometimes her dad came home with empty-handed.
Suddenly she felt a tightening in his chest. Oh .. sick once, even stabbing pain through her body. She wanted to scream and ask for help. However, as her mouth locked tight. She gasped in pain, moaning alone. She did not know the conditions around it. rushing water began to inundate her home, slowly breaks into the house. Her bed is almost entirely flooded. She screamed and asked for help. "Dad.! Help me dad..! Please. "She moaned.
Everyone ran to seek shelter, and there in the corner of the village, there is a small mosque building is higher than the other. Then she and her father immediately went there. And when she got there,  they   are immediately went inside and started looking for a place to sit and rest.
The mosque was full with all the people affected by the floods. "Dad, are we going to survive?" She moaned.
"Don't say like that dear, we will definitely survive. relief will come soon ". He said quietly.
"But I'm afraid dad" she said. "Do not be afraid, son, I'm here. dad will always protect you, "he said, hugging Nisa.
Far into the night. The mosque was filled with screams and cries. so many people are crying because of his family who died, because his property which could not be saved.
But for Nisa, no matter her house away with the tide, no matter she should lose her home. The most important thing for her is, she still able to live alone with her father.
"Dad .." she called. "Yes dear, can you promise me?" she said. "For what?" he said.
"promise that you'll never leave me" she said quietly. "Yes, I promise. I will never leave you. I love you, dear." he replied
And in the night, when everyone is asleep. She  can look at the sky, the sky was full of dancing stars.



For Mom..


when sunrise came
you accompanied me, without question
when sunset came
you hugged me, without reason

mom..
you let me bide
you make my heart wide
although i should finish ride
i don't care if you're by my side

mom..
when minutes began to change
when the second starts ticking
you introduced me to this world
and, you taught me how to live the truth

mom..
thank you for all you've given to me
with you my life is filled with dreams
with you my life is filled with hope and screams
thank you for the love you've given to me

Kamis, 05 Juni 2014

SIMPLE PAST TENSE





Simple Past Tense (Bentuk lampau sederhana) adalah bentuk waktu yang digunakan untuk menerangkan peristiwa atau perbuatan yang dilakukan pada saat tertentu di waktu lampau dalam bentuk sederhana. Waktu terjadinya peristiwa atau perbuatan itu telah diketahui. Jika kita membicarakan masa lampau, itu bisa beberapa menit yang lalu, sejam yang lalu, 2 hari yang lalu, bulan lalu, tahun lalu dan sebagainya, yang penting masa waktunya sudah lewat dan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang. 

Berikut rumus dari Simple Past Tense  dalam bentuk verbal:
(+) S + V2 + O + Adj / Noun / Adverb (ANA)
(-) S + did + not + V1 + O + ANA
(?) Did + S + V1 + O + ANA ?
Contoh Kalimat Verbal Simple Past Tense:
(+) The Doctor went to the hospital yesterday.
(-) The Doctor did not go to the hospital yesterday.
(?) Did the Doctor go to the hospital yesterday?
Berikut rumus dari Simple Past Tense dalam bentuk nominal:
(+) S + to be 2 (was/were) + ANA
(-) S + to be 2 (was/were) + ANA
(?) to be 2 + S + ANA ?
Contoh Kalimat Nominal Simple Past Tense:
(+) He was a teacher.
(-) He was not a teacher.
(?) Was he a teacher?
Keterangan:
Was = I, He, She, dan It.
Were = You, We, They.
EXERCISE
Fill the blanks !
1. She (meet) ............................................................. her uncle last night.

2. We (do) ................................................................. the test yesterday.

3. You did not (bring) ................................................. the dictionary.

4. Did your father (drink) ............................................ the coffee yersterday?

5. They (play) ............................................................. the game last night.

6. He (give) ................................................................ me an orange last week.

7. I (go) .....................................................................  to Medan last month.

8. She (sing) ..............................................................  a song yesterday morning.

9. Mother (make).......................................................  a rainbow cake last week.

10. Ditta (wash).........................................................  her shoes yesterday morning.





Selasa, 03 Juni 2014

Aku , ibu dan pesan singkatnya


Gubraaak ..pyaaa..aar !!! “siapa kau ? kau sama sekali tidak berhak mengaturku ! hanya aku yang berhak mengatur  kau , kalian semua .. !!” tuturnya dengan kencang. “breeeeeeeem ,, breeeem ..” bunyi mesin motor yang bersiap untuk landas. Berbeda dengan sebelah ruang dekat pintu itu, sunyi dan hening.
 Sentak  seketika aku menoleh untuk melihat darimana asal bunyi mencengangkan itu. Tidak ,,! Tidaaak !! untuk apa ? untuk apa aku menoleh sementara tolehanku itu hanya menjadi hembusan angin lalu biasa? Untuk apa aku menoleh lantas tolehanku itu hanya membuat hatiku meronta ? meronta melihat apa yang terjadi .. meronta melihat genangan air mata menutupi wajah lembutnya. “ooh.. tidak tuhan, sunggguh tak kuasa. Hatiku amat tersayat”. Jikalau  aku saja merasa begitu sakit ketika hanya melihat dan mendengarnya, lantas bagaimana dengan beliau ? bagaimana dengan wajah lembutnya ? bagaimana dengan beliau yang menjadi tokoh utama atas perasaannya yang telah terdzhalimi Rabb ?
aku bahkan merasa tidak ada seorangpun yang mampu menjawab semua  pertanyaanku , mampu menjawab keluhku , selain kau ya Rabbi ..
                “teh ,, kamu mau ibu memasak apa untuk buka puasa hari ini ?” tuturnya lembut dengan muka sembabnya yang hampir tak terlihat lagi. “terserah ibu , aku mau apa saja yang ibu buat..”. ibu langsung bergegas untuk pergi ke dapur menyiapkan menu buka puasa hari ini. Dan aku kembali dengan mesin tik tuaku , kembali menulis risalahku ..
                Dear diary ..
Ramadhan , ya ini hari ramadhan yang ke 27 aku dan ibu jalani , dengan  11 kali teriakan hebat yang terdengar , dengan 7 kali gebrakan pintu yang mencengangkan dan entah berapa kali pula terdengar pecahan kaca-kaca memenuhi lantai kamarnya. Tapi apa yang wajah lembutnya lakukan saat itu ? menutup kembali gebrakan pintu dengan perlahan , mengambil satu-persatu percikan kaca dengan tetesan air yang  menetes diantara percikan itu. Tapi apa yang beliau tunjukan untukku ? senyum , hanya senyuman lembutnya yang bisa menutupi semua yang terjadi .
                Ramadhan , bukankah semua orang lantas menyebut bulan ramadhan itu bulan penuh dengan keberkahan , keindahan dan ketentraman. 17 tahun yang lalu aku memang merasakannya, merasakan semua itu. Tapi tidak di usiaku yang hampir menginjak 18 tahun ini rabb. Aku bahkan merasakan bahwa ini ramadhan tersengit yang pernah aku rasakan.
Lantas bagaimana dengan DIA yang diluar sana ?  pedulikah dia dengan keadaannya ? keadaanku ? tidak ..! Kau tau aku begitu menyayangimu , teramat mengagumimu segabai sosok yang selalu aku jadikan panutan. Kau yang selalu menjadi obat lukaku , kau yang mengenalkanku bagaimana cara mengayuh agar dapat berjalan. Kau dan wajah lembutnya, menjadikan aku sosok yang selalu dekat akan sebuah keharmonisan, selalu dekat dengan sebuah ketentraman. Sayang, tapi itu dulu bukan untuk sekarang!
“teh, sudah sore mandi dulu jangan lupa sholat asharnya !” suara lembutnya dari kejauhan. “iya bu..” jawabku singkat .
                “cukup bu , nasinya jangan terlalu banyak  nanti teteh kekenyangan “, “iya nak..”jawab ibu.
Aku dan ibu menikmati makan buka puasa tidak seperti biasanya , kali ini terasa sepi. Ibu tak sepertinya , kali ini ibu tak banyak bicara. Tak banyak menanyaku tentang kegiatan disekolah dan apapun itu. Tak seperti biasanya. “bu ,,” aku memanggil, “iya teh, kenapa ? masakannya tidak enak ? terasa hambar ya ?” ibu dengan cepat menjawab. “engga bu , masakan ibu enak , seperti  biasanya enak sekali .. boleh teteh bertanya bu ?” jawabku . “iya teh , teteh mau tanyain apa ?”tuturnya. “bu , apa ibu dan ayah baik-baik saja ?” tanyaku. “eh hmm , ibu baik nak” jawabnya lemah .”tapi kenapa begitu sering ayah membentak ibu ? kenapa begitu sering ayah melontarkan kata-kata kasar bu ? kenapa begitu sering ayah melemparkan pintu sampai begitu kerasnya bu ? ada apa dengan ibu dan ayah ? tanyaku dengan sedikit rasa kesal. “ibu dan ayah baik nak,  ayo lanjutkan makannya ! setelah itu kita bergegas pergi ke mushola untuk sholat teraweh” jawab ibu yang seketika tak mau membahas masalahnya.
Sepulang dari mushola,  tidak biasanya aku merasa kantuk yang berlebihan rasanya ingin segera merebahkan badan di ranjang. Dan rasanya untuk malam ini aku tidak ingin menyapa mesin tik tuaku .

               
 Dinda anakku ..
Kadang tiap masalah yang dihadapi tak harus dipaksakan dengan solusi manusiawi yang penuh keterbatasan, sebab yang dibutuhkan adalah kerendahan hati dalam ikhtiar langit di hening malam.
Kadang Allah mendidik dengan cara-cara yang unik yang sulit dijangkau akal dan pikiran, sebab yang dibutuhkan adalahhanya berbaik sangka pada-Nya dalam balutan ikhlas..
Ibu berdoa ,semoga keindahan tak perlu lagi dinamai dan semoga keharmonisan tak perlu lagi terbagi..

Pagi hari tiba , aku telat terbangun .. kusambut mesin tik tuaku pagi ini.
“ibuuuuu…”